Kemenangan Kecil

 

Oleh: David Efendi

Sejatinya, anak anak tak pernah memikirkan besar kecilnya sebuah kemenangan bahkan tak pernah terbersit definisi kemenangan itu sendiri. Tidak sedikit anak anak yang tidak belajar dari praktik pendidikan yang diperlombahkan. Barangkali salah satu contohnya, kegiatan sehari hari anak anak di sanggar anak Alam (SALAM) Yogyakarta yang penuh kreatifitas dan keterlibatan warga belajar luas.
Kemenangan kecil dalam judul coretan ini adalah sekedar ekspresi apresiatif bahwa setiap terpenuhinya sebuah hasil upaya yang dilakukan anak anak adalah sebuah kemenangan yang orang dewasa harus tahu betapa bermaknanya itu bagi anak anak. Janganlah begitu keras kepala wahai orang dewasa, sebagai orang tua kadang begitu muda memvonis anak anak bodoh dan lambat jika tak mampu baca tulis di saat kelas satu SD. Anak Saya waktu dulu di TK belum mau membaca menulis tapi dengan kesadaran dan kemauannya sendiri kini penuh antusiasme kalau butuh membaca sesuatu, di larut malam ia akan membaca.
Praktik-praktik pendidikan penuh stereotype in masih marak terjadi. Banyak guru SD yang maunya masuk SD anak anak harus sudah bisa berhitung, membaca, dan menulis.

Lagi, kalau tidak juara tidak mendapatkan penghargaan dari sekolah. Model begini, sudah tidak lagi memadai untuk menyiapkan anak anak yang siap di zamannya yang tentu berbeda dengan zaman para pendidiknya, orangtuanya. Skill yang ditanamkan barangkali tidak lagi kapasitas personalnya tetapi kerja kolaborasi, antusiasme, pembelajar, dan responsif terhadap linkungan dimana dia akan hidup. Peran orang orang sekitar juga penting mengaktualisasikan hasrat berproses anak dalam kehidupan nyata.
Orang tua dan Pendidik yang baik bukanlah jenis mahluk hidup yang paling pintar dan hebat di bumi. Mereka, Saya, kamu, Kita, jika bagian dari makluk ini adalah manusia biasa, banyak sekali keterbatasan dan bahkan Kita sendiri tidak beres selesaikan urusan sendiri, untuk itu juga perlu banyak belajar. Anak anak juga guru, orang lain, alam juga dapat menjadi wahana belajar.

Kita juga mesti tahu, bagaimana anak anak memperjuangkan surga bahagianya, bagaimana mereka gembira dari serentetan tantangan yang berhasil ia ciptakan dan ia sendiri taklukkan.
Anak anak yang bangun pagi mau belajar ke Sanggar ia berhasil melawan kantuknya sendiri, semangatnya menghancurkan rasa malasnya. Bisa naik sepeda adalah kemenangan besarnya, Dan sehari hari menaklukkan jalanan, membelah kampung dan jalan raya, itu kemenangan penting yang Kita mesti tahu. Bernegosiasi dengan teman, dengan fasilitator, membuat argument, membantu proses belajar bersama itu juga peristiwa menciptakan dunianya yang penuh mozaik yang ia berhasil lakukan. Bagi anak anak, barangkali itu Tak pernah diklaim sebagai sesuatu yang hebat karena itu memang biasa—kebiasaan inilah yang Akan mengawalnya kelak sampai dewasa. Anak anak yang terlibat belajar dan menentukan corak metode belajar adalah anak anak yang sedang menjadi manusia. Bukan robot robot kecil yang dikirim ke sekolah karena orang tua sibuk bekerja.

Anak anak yang menjadi subyek adalah anak anak yang menjalani dan mengalami peristiwa kemenangan saban hari. Kemenangan yang bukan “prestasi” dari standard pendidikan Hari ini. Tapi yakinlah, subyek subyek itulah yang akan membentuk karakter, mental, empati, kesetiakawanan sosial, kerja tim, mandiri, dan mulai memikirkan bahwa banyak cara untuk belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *