Saat Bunda Marah

Oleh: Rifi Zahra

“ZAAAYYDDDD!”

Begitu yang terdengar dari mulut saya saat Zayd, 33 bulan, mulai menyulut amarah saya. Mungkin tidak kencang, dan biasanya saya usahakan untuk diikuti dengan “…anak shalih, anak baik, Nak.” Tapi sesekali justru bukan berlanjut dengan kata-kata doa itu, melainkan teriakan dan omelan yang meluncur dari mulut ini.

Ya, belakangan ini saya mulai merasakan betapa ‘menantang’nya mengasuh balita jelang usia tiga tahun. Fase di mana ananda di satu sisi mulai memiliki keinginan sendiri, sementara di sisi lain belum sempurna mengomunikasikannya dengan orang lain, sehingga terkadang tantrum pun menjadi makanan sehari-hari dan saya sebagai ibu jadi mudah marah-marah.

Namun pada akhirnya saya menyadari, Zayd hanyalah balita di mana saya tidak bisa menggunakan standar orang dewasa padanya. Karenanya saya yang harus belajar mengendalikan diri. Akhirnya, saya putuskan untuk membaca buku Marah yang Bijak karya Bunda Wening, seorang Trainer, Terapis, dan Konselor Parenting. Saya berharap buku ini bisa membuat saya lebih sabar dan bijak dalam menghadapi Zayd.

Dalam buku ini, Bunda Wening mengatakan bahwa marah adalah fitrah manusia…bahkan marah itu bisa menyehatkan karena dengannya kita menyalurkan dan tidak memendam emosi, namun marah tanpa kendali menunjukkan rendahnya kemampuan problem solving seseorang.

Setelah membaca buku tersebut, beberapa hari ini saya mencoba mempraktikan beberapa hal yang ada di buku tersebut, antara lain :

1. Saya mencoba mengidentifikasi kondisi apa yang membuat saya lebih mudah marah dan emosi.

Ternyata, saya akan lebih mudah marah saat saya lapar dan mengantuk. Karenanya, saya untuk selalu berusaha dalam kondisi kenyang dengan menyediakan biskuit atau buah sebagai camilan saat mengasuh Zayd. Saat mengantuk, saya memilih bersepakat dengan suami untuk bergantian mengasuh Zayd.

2. Mengubah kalimat komunikasi.

Saat Zayd tidak mau mandi, alih-alih memaksa dia masuk ke kamar mandi, saya mencoba mengajaknya untuk mencuci mobil-mobilannya di kamar mandi. Lalu pelan-pelan saat dia sudah mulai nyaman, baru saya ajak untuk membersihkan tubuhnya sambil diberi pengertian tentang pentingnya menjaga kebersihan tubuh dengan mandi.

Tidak memaksanya saat tidak mau makan, tapi berupaya memberi pilihan. Setuju kan Bunda, kalau saat ananda tidak mau makan, kita akan pusing? Hehe. Dan ini terkadang membuat kita tidak sabar dan ingin mengomel. Akhirnya saya coba untuk memberi pilihan makanan yang Zayd bisa pilih sendiri, memberikan finger food yang bisa dia ambil sendiri sewaktu-waktu, atau justru membiarkannya sampai akhirnya meminta makan sendiri.

Mengajaknya melakukan aktivitas lain yang terdengar lebih menyenangkan di rumah saat Zayd bermain di luar dan tidak mau pulang. Ya, ini sering terjadi…dan saya berusaha mengubah kalimat perintah pulang dengan ajakan untuk bermain dengan hal yang lebih menarik atau membaca buku yang sedang dia sukai di rumah.

Dan ternyata mengubah teknik komunikasi ini berpengaruh sekali. Tentunya membuat less stress dan marah-marah pun bisa dihindari.

3. Menyadari sepenuhnya bahwa anak adalah amanah dan berusaha ikhlas menjalani peran pengasuhan.

Hal yang paling penting adalah poin ketiga ini. Saat Zayd sudah menyentuh ‘tombol marah’ saya, saya mencoba berusaha mengingat bahwa dia adalah amanah, dia masih anak-anak yang belum sepenuhnya paham apa yang orang dewasa katakan. Dengan mengingat hal ini membuat saya bisa lebih calm down dalam menjalani pengasuhan.

Sebenarnya masih banyak sekali yang dibahas tentang marah di dalam buku ini. Saya merekomendasikan untuk dibaca sepenuhnya. Marah itu perlu, tapi marah yang bijak dan terkendali.

Karena saat bunda marah dengan tidak terkendali, maka akan berpengaruh negatif pada jiwa ananda. Saat bunda marah dengan terkendali, maka tujuan marah itu (mendisiplinkan anak, membuat anak paham bahwa yang dilakukannya itu salah, dll) bisa tercapai dengan baik. Yuk, sama-sama belajar mengendalikan amarah pada ananda!

Semoga sedikit sharing ini bisa bermanfaat. Salam hangat 🙂

*) sumber bacaan : Buku “Marah yang Bijak” karya Bunda Wening, Penerbit Tinta Medina, 2013

sumber: http://www.mungilmu.com/single-post/2016/12/27/Saat-Bunda-Marah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *