Terapkan Disiplin, Awali dari Kebiasaan

Oleh Er Maya
Anak-anak yang memiliki disiplin tinggi adalah cita-cita semua orangtua. Namun, adakalanya orangtua mengalami kesulitan ‘menjinakkan’ anak-anaknya yang tidak disiplin.
Ya, disiplin memang acap dijadikan momok, sesuatu hal yang menakutkan. “Anak akan merasa tertuntut dan menjadi beban bagi si anak ketika melanggar disiplin tersebut,” ungkap bunda Wening, konseling anak dari As-Syifa Institute.
Menurut bunda, demikian ia akrab disapa, manusia pasti memiliki prioritas terhadap kebutuhan mereka. “Misalnya, bayi usia 7 bulan pasti lebih sering tidur dibandingkan balita usia 4 tahun yang 50%-60% nya masih lebih sering bermain. Ini artinya, seiring pertumbuhan usia, kebutuhan tidur tentunya akan berkurang,” jelas bunda. Jadi, dalam hal ini, untuk menerapkan disiplin tidur harus pula bercermin pula pada usia tumbuh kembang anak.
Penerapan disiplin di sebuah keluarga tentu memiliki pola yang berbeda antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. “Agar disiplin itu efektif, maka sebenarnya tidak harus diterapkan secara tertulis, tapi bisa melalui pembiasaan-pembiasaan,” imbuhnya.
Bunda memberi contoh, ada seorang anak yang terbiasa belajar mulai jam 02.00 dinihari hingga selepas waktu shubuh. Kebiasaan tersebut rupanya diterapkan orangtuanya dengan konsisten dan bertujuan agar diteladani. “Si anak melihat kebiasaan orangtuanya bangun dinihari dan beraktivitas, dan ia lalu menerapkan kebiasaan tersebut pada waktu belajarnya,” jelas bunda.
Anak tersebut tidak merasa terbebani dengan disiplin, karena sudah terbiasa melihat kebiasaan-kebiasaan yang dicontohkan orangtuanya. Jadi, poin penting yang wajib diperhatikan orangtua adalah konsisten dan teladan untuk mengajarkan perilaku disiplin pada buah hatinya.
Latih Kebiasaan
Agar sebuah keinginan bisa menjadi kebiasaan, bunda memberikan contoh. “Misalnya saja nih, keinginan bisa rutin minum air putih tiap pagi. Sebagai permulaan, coba dengan menempelkan kertas di tempat minum tersebut, dan lakukan secara berkala setiap pagi selama 21 hari kedepan,” jelasnya.
Sehingga tidak perlu dituliskan, pada akhirnya kebiasaan itu akan muncul seiring kerja bawah sadar, seperti diungkapkan bunda. “Karena 88 persen kebiasaan yang diterapkan pada diri sendiri bisa sangat berpengaruh pada perilaku sehari-hari,” ungkapnya.
Namun tak dipungkiri, pembiasaan dari orangtua yang diterapkan dari awal pasti akan menciptakan sebuah dinamika penolakan, “hal itu wajar, karena itu bagian dari proses adaptasi,” imbuhnya.
Hargai waktu
Waktu tidak akan pernah kembali, “waktu adalah sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli, dimana kehilangan waktu adalah kehilangan hal-hal berharga,” ujar bunda bijak. Maka penerapan disiplin adalah sangat penting agar anak-anak bisa lebih menghargai waktu.
Lantas, bagaimana agar anak-anak bisa mengatur waktu dengan kegiatan mereka yang seabrek? Terpenting yang perlu diperhatikan terlebih dulu adalah, anak-anak harus merasa senang dengan kegiatan yang mereka jalani.
“Disinilah peran orangtua untuk melihat sejauh mana bakat dan minat buah hati mereka terhadap sebuah kegiatan,” ujar bunda. Nah, saat mereka bisa mengatur waktu mereka dengan baik, “konsekuensinya adalah, jangan lupa berikan hadiah atau reward,” tandasnya.
“Rangsangan berupa reward ini terbukti lebih efektif daripada sebuah kalimat ancaman jika melanggar disiplin waktu,” ujar bunda. Misalnya, ajakan untuk bangun pagi lebih awal, bisa dengan kalimat halus, “kalau kamu bangun pagi dan ngga terlambat masuk kelas, kamu bisa dapet poin lo,” imbuhnya.
Sementara untuk hukuman (punishment), “berikanlah hukuman yang ada hubungannya dengan apa yang telah dilanggarnya,” ujar bunda memberi contoh.
Terlambat masuk sekolah, misalnya. Guru tidak harus menghukum anak dengan keliling lapangan 100 kali. Cobalah dengan menerapkan hukuman yang sifatnya lebih efektif. “Hukuman atas keterlambatannya masuk kelas, bisa berupa mencari informasi tentang materi pelajaran yang tidak sempat diikuti,” ungkapnya bijak.
Harapannya, anak-anak tentu akan bisa mengambil hikmah karena berani melanggar disiplin dan peraturan, “tujuan menghukum pun jadi lebih efektif. Dan satu yang perlu diperhatikan juga, berikan hukuman yang sifatnya mengurangi kesenangan mereka, semisal, lupa waktu belajar, maka hukumannya mengurangi jam menonton televisi” paparnya.
)*Artikel yang pernah dimuat di suplemen untuk anak “Junior” Suara Merdeka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *